... Serigala akan tinggal bersama domba dan macam tutul akan berbaring di samping kambing ...

Maka wajahMu kucari, ya Tuhan

Pada tanggal 28 Mei para pemimpin umum tarekat religius, pria dan wanita, menerima instruksi baru dari Kongregasi untuk Tarekat Hidup Bakti dan Hidup Kerasulan, mengenai kewibawaan dan ketaatan. Pertemuan pemimpin umum tarekat religius pria (USG) yang berlangsung selama tiga hari (28 Mei - 30 Mei) sepenuhnya dimanfaatkan untuk membicarakan instruksi “Pelayanan kewibawaan dan Ketaatan” dengan subjudul “Faciem tuam, Domine, requiram” (Mz. 27:8). Dengan subjudul itu mau dinyatakan bahwa baik kewibawaan maupun ketaatan para religius mengabdi pada kerinduan akan wajah Allah. Walaupun terdapat bahaya bahwa kerinduan akan Allah akan dimanipulasi dan dipakai untuk menguatkan posisi pimpinan/penguasa. Namun setelah rasa curiga diredakan, orang dapat membiarkan diri diilhami oleh naskah ini yang menegaskan pentingnya persaudaraan dan missi persekutuan untuk menuju pengaruh kehadiran Allah.

Untuk sementara orang, bicara mengenai kerinduan akan pengaruh kehadiran Allah, atau mengenai menaati kehendak Allah kedengaran sebagai suara masa lampau. Namun kalau disadari bahwa dasar ketaatan terletak dalam mendengarkan dan menaati diri sendiri, maka suaranya akan lain sekali. Barang siapa telah belajar mendengarkan dirinya, sudah berkenalan dengan keterbatasan dan sisi gelap dirinya. Dengan menaati dirinya ia belajar menerima yang baik serta pula yang kurang indah dalam dirinya. Ia menjadi akrab dengan dirinya dan makin mampu untuk setia padanya. Makin maju proses pemekaran ini maka kemampuan untuk dengan rela menaati orang lain dan setia kepada mereka pun dapat makin berkembang.

Kalau ketaatan ini menjadi sikap dasar maka risiko aliënasi beralih menjadi peluang memajukan suatu proses pemekaran diri, baik sebagai manusia maupun sebagai pribadi.

« Kembali ke ikhtisar