Pembinaan peduli lingkungan

Harga pupuk dan pestisida kimia makin naik, sedangkan kesuburan lahan persawahan semakin tandus akibat penggunaan pupuk dan pestisida yang over dosis, maka  para petani makin mencari jalan keluar agar bebas dari keterikatan pada sarana produksi tersebut. Atas dasar permintaan kelompok tani, seperti di Kalibalong dan Glondong, beberapa bruder MTB bersama kelompok ekologi Kotabaru memberi penyuluhan dan pelatihan. Para petani cukup antusias dengan pelatihan yang sederhana yang dilaksanakan dalam suasana penuh kekeluargaan. Sesudah perkenalan, acara dilanjutkan dengan proses pembuatan pupuk, pestisida organik dan memperbanyak aktivator kompos.
Menurut evaluasi eksperimen pupuk, pestisida organik, dan aktivator kompos yang dilaksanakan seminggu kemudian, 90% jadi dari aneka percobaan. Evaluasi percobaan membuka wawasan petani di Kalibalong bahwa dengan pengembangan pertanian organik efisiensi biaya cukup tinggi dan efektik karena bahan masih mudah diperoleh di lingkungan desa.

Selain itu tim yang sama diminta juga oleh beberapa sekolah, seperti  SD Maria Assumpta Klaten dan yayasan SangTimur untuk memberikan edukasi ekologi bagi anak-anak TK dan SD. Di Klaten Materi edukasi ekologi diberikan dalam rangka masa orientasi sekolah ( MOS ) tahun ajaran baru 14 Juli  sampai 18 Juli 2008. Paket edukasi ekologi dimulai dengan tahap perkenalan serta observasi lapangan, sambil membantu guru dan karyawan untuk mengarahkan anak-anak pada acara yang diselenggarakan oleh sekolah.

Murid-murid SD kelas 1-3 diajak mengolah sampah menjadi kompos dengan model Takakura. Model Takakura membantu anak-anak untuk menyerap materi yang diberikan dengan baik. Tim di sesi “Ayo mengolah sampah dengan Takakura” tidak hanya dari Bruder MTB namun dari guru dan karyawan SD Maria Assumpta turut bekerja mendampingi anak-anak. Menurut anak-anak model Takakura sangat sederhana dan mudah dilakukan.
Tujuan memperkenalkan keranjang Takakura adalah mengajak anak-anak untuk memahami dan dapat melakukan pengolahan sampah secara sederhana sehingga lingkungan menjadi bersih. Selain itu anak-anak diajak agar tidak takut akan sampah namun menjadikannya sahabat untuk menghijaukan lingkungan.

Siswa-siswa kelas IV – VI diajak mengolah sampah menjadi kompos dengan media drum komposter dan membat aktivator kompos dengan memanfaatkan buah-buahan yang busuk. Pertemuan pertama mengajak anak-anak membuang sampah sesuai kategori yang telah ditulis di ember sampah, yaitu sampah organik tanpa lemak dan minyak, sampah organik mengandung lemak dan minyak, sampah organik khusus sisa daging dan tulang, sampah plastik, sampah logam, sampah kertas, sampah kaca. Tujuan materi pemilahan sampah agar anak semakin terbiasa membuang sampah pada tempatnya dan semakin memahami bahwa sampah-sampah yang dibuang ada yang bisa didaur ulang menjadi kompos.

Pagi, 17 Juli 2008 anak-anak diajak mengolah sampah dengan media drum komposter. Teknik penggunaan komposter diberikan dari merajang sampah, mencampur sampah dengan bakteri pengurai (EM4), gula, serbuk gergaji dengan baik dengan benar. Sesi ini dibuat kompetitif, yaitu kelompok siapa yang mengolah sampah dengan baik dan benar mendapat hadiah. Tujuan dari materi ini adalah agar anak semakin paham dan mampu melakukan pengolahan sampah dengan mudah, praktis, dan bisa digunakan untuk lahan sempit. Anak-anak memberi tanggapan bahwa mengolah sampah menjadi kompos itu mengasikkan. Para pembina senang mengamati perilaku anak-anak yang dulunya tidak suka atau jijik dengan sampah, sekarang menjadi tidak takut dan menjadi seperti bermain saja.

Hari berikut, anak-anak kelas IV diajak bruder, guru, dan karyawan membuat aktivator kompos dengan buah-buahan yang busuk. Alat-alat yang perlu disediakan adalah blender, ember, gelas ukur, sendok, kain yang tidak terpakai untuk penyaring, botol penyimpanan. Bahan berupa buah-buah busuk, gula. Metode membuat aktivator kompos cukup sederhana dan bagi anak-anak mudah untuk melakukannya. Anak-anak pada awal mula cukup jijik melihat dan memegang buah-buah yang busuk.
Bruder-bruder memberi contoh memegang, mengambil, dan mengolah buah busuk menjadi aktivator agar anak-anak tidak jijik lagi sambil berhumor sehingga anak-anak pun semakin gembira. Al hasil anak-anak tidak jijik lagi dan ada di antara kawan saling bergurau saling mengoles sari buah ke tangan kawan lain. Namanya anak-anak segala sesuatu masih indah dan polos. Tujuan dari materi membuat aktivator kompos dari buah, yaitu agar anak-anak dapat membuat dan memanfaatkan buah-buah busuk yang digolongkan sampah dapat dijadikan aktivator kompos yang murah dan ramah lingkungan.


 

« Kembali ke ikhtisar