. . . menyangkal diri kita sendiri serta menundukkan tubuh kita di bawah kuk pengabdian . . .

In memoriam bruder Gregorius Caron

Broeder Gregorius Fransiskus Petrus Antonius Caron

Lahir di Den Haag  22 - 11 - 1919
Masuk Kongregasi  22 - 01 - 1939
Kaul pertama kali  15 - 08 - 1940
Kaul kekal  15 - 08 - 1943
Wafat di Huijbergen  28 - 12 - 2008

Br. Gregorius Caron (nama biara diambil dari pamannya Br. Gregorius Hazebroek † 1937) memegang teguh pada prinsip-prinsip, baik di bidang religius maupun di bidang persekolahan. Ia menyukai disiplin dan ketertiban. Sebagai religius ia mengikuti peraturan dan ketetapan dengan setia dan sikap itu pun nyata dalam karyanya di sekolah. Di rumah, bapaknya seorang pegawai, ia sudah dibiasakan dengan ketertiban.

Br. Gregorius melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Ia seorang guru dan sebagai kepala sekolah menuntut, baik dari guru-guru maupun dari muridnya, bahwa mereka melakukan tugas dengan tekun dan penuh semangat. Sekolahnya dihargai baik oleh para penilik sekolah dan hal ini dibanggakan oleh bruder Gregorius.
Pembaharuan di Gereja dan masyarakat tidak melewati pintu biara. Banyak pertemuan kapitel berusaha mencari bentuk baru. Tempo segala perubahan berlangsung untuk bruder Gregorius terlalu tinggi. Waktu berlibur di Austria ia menemukan iklim rohani yang lebih sesuai baginya. Pembaharuan di daerah pedalaman Austria kurang hebat dari pada di Negeri Belanda.

Di luar sekolah bruder Gregorius aktif sebagai pemain dan sutradara drama panggung(ia memainkan beberapa peran dengan cemerlang). Ia menaruh hati pada orang miskin yang tidak kentara kemiskinannya, membina studi murid dan drumband sekolahnya menjadi terkenal. Setelah memasuki masa pensiun ia mengabdikan diri di kantor missie keuskupan Breda. Tugas ini yang mempertemukannya dengan kebudayaan dan agama yang lain, meluaskan wawasannya. Ia terutama tertarik oleh cara agama dan kebudayaan itu dihayati.

Pertambahan usia membawa juga kelemahan fisik dan ia menjadi makin akrab dengan rumahsakit. Dia masa itu ia menderita banyak. Kadang-kadang ia membuka tabir hidup rohaninya dan memperlihatkan sisi pribadinya yang lain. Akhirnya karena membutuhkan ketenangan dan perawatan ia memutuskan untuk pindah ke Huijbergen. Ia senang dan berterimakasih atas perawatan dan perhatian yang ia terima. Minggu-minggu terakhir hidup duniawinya memberi isyarat-isyarat bahwa ia mulai kehabisan tenaga. Pada pesta Keluarga Kudus, setelah menerima komuni suci, ia tertidur untuk selamanya.
Hidup religiusnya yang kaya akan buah-hasil telah berakhir. Kami yang beriman boleh percaya bahwa Br. Gregorius diterima dalam Keluarga Kudus yang besar di surga.

Waktu masih muda bruder Gregorius memilih hidup membiara sebagai bruder dari Huijbergen. Bahwa pilihannya tepat ternyata dari kesetiannya sampai akhir. Dengan ketekunan yang mengagumkan ia memelihara hidup doa tetap mengikuti perkembangan suka duka gerejani. Hal ini nampak juga dari kerelaannya untuk di samping kegiatan sebagai guru, kepala sekolah dan pembina drumband menyediakan waktu untuk membantu di paroki. Jadwal doa bersama di rumah dengan perayaan ekaristi sebagai puncak, menjadi tempat singgah yang teduh baginya di perjalanan menuju cita-citanya sebagai bruder.

Bahwa ia berulang-ulang kali diminta untuk pindah sebagai guru dan kepala sekolah tidak mencemaskannya: dengan penuh semangat ia tetap mengabdikan diri demi kepentingan murid-muridnya. Di sekolah baru ia pun menerima tanggungjawab atas drumband sekolah itu. Komunitas bruder pun menikmati kepekaan hati dan ketrampilan tangannya. Bertahun-tahun ia mengurus berbagai hal yang kecil namun penting. Setiap tahun ia menyediakan hiasan Natal di rumah dan membuktikan rasa seni dan ketrampilan tehnisnya selalu memancing rasa kagum. Di kantor is dicintai karena pembukuan yang teliti namun terutama karena kejelian perhatiannya untuk para karyawan. Perhatian ini pun dialami oleh familinya.
Siapa pun yang sempat mengenal beliau akan mengenangkannya sebagai orang yang ramah dan penuh perhatian dan. Semoga sesudah hidup aktif di dunia beliau menemukan ketenangan di sisi Allah.

Sumber: Br. Reginald dan bruder Andre.

« Kembali ke ikhtisar