In memoriam bruder Eustachius Luijten
Lahir di Breda : 14-08-1925
Masuk kongregasi : 27-01-1947
Kaul Pertama : 15-08-1948
Meninggal dunia di Roosendaal : 29-04-2009
Dimakamkan di Huijbergen : 04-05-2009
Hendrikus Luijten, dipanggil Dirk, dilahirkan dalam keluarga tukang kayu Antonius Luijten dan Anna van der Net sebagai anak ke-enam dari jumlah tujuh anak. Kakaknya yang sulung, Marietje, telah meninggal dunia sebelum ia lahir sehingga tidak sempat mengenal dia.
Waktu berumur 21 tahun ia masuk kongregasi Bruder-bruder dari Huijbergen. Di bruderan sementara “Lievensberg” di Bergen op Zoom dan menerima nama bruder Eustachius. Ia memulai rangkaian tugas-tugas sebagai juru masak di rumah itu dan kemudian di komunitas Hulst. Tahun 1951 ia bertugas di Huijbergen dan membantu di bengkel kayu yang sibuk mengatasi kerusakan akibat perang dunia kedua. Namun hanya setahun saja. Tahun 1952 Br. Eustachius bertugas sebagai koster di komunitas SPG Breda dan sejak 1957 juga di Amsterdam. Di tempat yang terakhir ini ia sekaligus pengurus rumahtangga. Tahun 1959 ia kembali ke Huijbergen untuk seterusnya.
Di Huijbergen kita mengenal bruder Eustachius dengan nama panggilan singkat “de Stas”, sebagai pembina asrama yang dicintai, sebagai tukang kayu yang trampil dan sebagai anggota bagian tehnik Santa Maria yang suka menolong. Pola hidupnya ditandai oleh ketulusan dan kesederhanaan. Ia mampu menikmati apa yang disajikan oleh hidup ini: burung-burung, bunga dan pergantian musim-musim, tanda dan percakapan persahabat, hidup persaudaraan. Segala perubahan yang terjadi dalam biara, gereja dan masyarakat agak sulit ia terima. kadang-kadang nada dasar gurauannya mengungkapkan rasa tidak setuju. Namun karena rendah hati ia menahan diri dan tidak memamerkan pandangan pribadinya.
Di kamarnya, pada beberapa tempat yang mencolok ia memasang beberapa petuah saleh. Misalnya dari Teresia Lisieux: “Untuk selamanya aku aman di kasih Allah yang Maha-rahim”; dari Teresia Avila: "Barangsiapa memiliki Allah, tidak akan berkekurangan sebab hanya Allah dapat memberi pemenuhan”. Petuah-petuah ini memberi arah kepada dugaan kita mengenai kedalaman hidup rohaninya.
Ia menjalani operasi jantung dengan beberapa bypass pada bulan Januari tahun 1996. Terpaksa, karena tidak mudah untuk orang serajin dia, ia mengurangi kesibukannya. Waktu untuk menata dan menambahkan koleksi koin tersedia lebih banyak. Bersama orang lain ia menerima sakramen orang sakit pada tanggal 23 Agustus tahun lalu. Ia merasa siap untuk memulai perjalanan ke seberang.
Setelah kena emboli, ia menerima beberapa hari perawatan intensif di R.S. Santo Fransiskus di Roosendaal namun tidak tertolong lagi dan meninggal dunia pada tanggal 29 april. Tanggal itupun tanggal wafat ibunya. Mengherankan sebab ikatan dengan ibunya kuat, bahkan sampai saudarnya kadang-kadang menyebutnya “anak-ibu”.