Hari minggu panggilan
Saudara dan saudari,
Siapa saja dipanggil untuk hidup sesuai kemungkinan yang ada padanya. Pada dasarnya setiap orang dibekali dengan potensi dan talenta yang pantas untuk dimekarkan. Namun seringkali jalan menuju pemekaran itu harus dicari-cari. Terdapat ketegangan antara kerinduan dan keinginanku untuk menjadi diri seadanya, dan apa yang dinginkan masyarakat dari diriku. Walaupun sering kita sadari apa yang perlu dilakukan dan tahu bagaimana melangkah, seringkali pula kita tidak melakukannya, karena berbagai alasan yang masuk akal maka pelaksanaan yang dirasakan benar terhalangi. Jalan hidup kita temukan dengan jatuh dan bangun lagi, dengan bantuan dan dukungan orang lain dan juga karena mereka mempertanyakan usaha kita.
Berbicara mengenai panggilan berarti berbicara mengenai iman. Percaya bahwa Allah ada dan bahwa ia memanggil siapa saja untuk berkembang sesuai dengan maksud-Nya. Sebab Ia punya maksud dan tujuan dengan setiap orang. Ia mengenal kita dan mengharapkan bahwa kita mengakui Dia. Dengan salah satu cara semua orang mendapat tempat tersendiri di alam semesta alam ciptaan-Nya, masing-masing dengan cirikhas dan talentanya. Seandainya kita semua dapat mengambil keputusan yang tepat maka masa depan dunia pasti cerah; kerajaan Allah dapat menjadi nyata di antara kita.
Sejak masa sekolah dasar saya merasakan keinginan untuk memberi tempat khusus kepada Injil dalam hidupku. Ada rasa tertarik mengikuti contoh Yesus. Saya pergi ke gereja dan rasanya nyaman dan tenang tinggal disitu. Di rumah pun setiap hari kami mendoakan doa rosario. Saya sering bertemu dengan orang tua di sekitar rumah saya; belanja untuk mereka, memelihara taman dan sering bercerita. Waktu saya mulai memikirkan masa depan hidupku keinginanku tertarik ke arah gereja. Dan akhirnya, melalui berbagai kesulitan, saya menentukan pilihan. Terasa bahwa Allah menghendaki sesuatu dengan diriku, namun keinginanku sendiri lain. Allah yang menghadirkan pengaruh-Nya sedikit demi sedikit saya abaikan. Saya mencari jalan melalui pendidikan ketrampilan, (tukang semen) dan menjalin relasi dengan teman perempuan.
Akan tetapi Allah tidak melepaskan diriku. Ia mengenal diriku dan saya belajar mengenal Dia. Tidak mudah saya menyerahkan diri. Keberadaanku yang nyata sudah pasti, namun konsekwensi kehendak Dia penuh risiko.
Namun sedikit de sedikit saya membuka diri untuk maksud Allah. Saya mau menanggapi panggilan yang diletakkan-Nya di hatiku. Saya berkenalan dengan Fransiskus dan pengikutnya. Saya terpesona dengan pola hidup Fransiskus di tengah-tengah umat. Ia menghubungkan diri dengan Kristus dan sekaligus dengan mereka yang kecil dan miskin. Dalam semangat Yesus ia memberi perhatian kepada saudara dan saudarinya yang lemah. Dan bukan itu saja. Sementara berhubungan erat dengan persekutuan gereja ia menemukan jalan yang otentik untuk mengikuti Tuhan. Saya pun mau demikian. Hidup atas dasar Injil dan mengabdikan diri, di bidang apa saja, kepada kaum lemah zaman kini. Keputusan final untuk mengutamakan Allah dan memilih hidup membiara saya ambil beberapa bulan sebelum mulai menjalani masa wajib militer.
Akhirnya saya berkontak dengan Kongregasi Bruder MTB, untuk anda mungkin lebih terkenal sebagai bruder-bruder dari Huijbergen yang spiritualitas fransiskannya kuat.
Sejak perkenalan pertama saya merasa kerasan disitu. Dan makin mengenal kongregasi ini dan para bruder, perasaan itu pun bertambah kuat. Maka agak cepat saya tahu bahwa saya mau menjadi salah satu dari mereka dan bersama-sama menghayati cita-cita Fransiskus. Yakni bersama-sama dengan mereka mengikuti jalan Yesus dan hidup menurut inspirasi Injilnya. Pada tahun 2005 saya menjadi postulan dan setahun kemudian memasuki masa novisiat. Sesudah novisiat saya mengikrarkan ketiga kaul untuk masa sementara. Sebagai bruder saya mulai mengikuti pendidikan sebagai perawat orang jompo dan pindah dari komunitas besar di Huijbergen ke komunitas yang lebih kecil di Breda.
Saya bekerja di rumah orang jompo ‘De Leystroom’. Dalam pekerjaan ini saya dapat menghayati cita-cita Fransiskus yang punya hati untuk orang sakit. Pertemuannya dengan orang kusta dalam hal ini sangat berarti. Ia tidak mengambil jarak namun merangkulinya. Fransiskus tetap memandang orang sakit terutama sebagai manusia, citra Allah. Dalam karyaku saya boleh menolong orang jompo dan orang sakit sesuai semangat Fransiskus. Yesus pernah berkata: “Apa yang telah dibuat untuk paling hina ini, kamu lakukan untuk saya”. Dalam hidup dan karya ini saya merasa diteguhkan oleh sesama bruder, keluarga saya, rekan dan teman-teman.
Rasa peneguhan itu pun saya temukan dalam doa, baik waktu doa bersama di biara atau gereja, maupun waktu doa pribadi: baca kitab suci, doa rosario, meditasi atau mengheningkan diri. Saat-saat ini meneguhkan dan memberi ilham untuk meneruskan jalan hidupku, yakni sebagai bruder MTB.
Tentu saja saya melihat bahwa keadaan gereja di lingkungan masyarakat dekat saya tidak cerah dan bahkan sulit. Pilihan saya sering dipertanyakan, mengapa saya mengambil langkah ini, apa yang dapat ditemukan di dalam biara. Dan pertanyaan yang sama saya arahkan juga kepada diriku. Sebab saya tidak buta atau tuli untuk arus zaman ini. Saya tetap pada jalanku sebab saya percaya bahwa Allah yang hidup memanggil saya. Kendatipun terdapat keresahan di masyarakat mengenai makna gereja untuk manusia, saya tetap merasa kerasan, aman dan tenang dalam kasih Allah yang saya kenal sebagai Gembala yang Baik. Itulah gambaran yang saya peroleh dari pengalaman hidupku mengenai Allah. Saya menemukan jalan hidup sebagai religieus dan merasa bahagia. Saya harapkan dan berdoa agar anda pun boleh belajar mengenal Dia sebagai gembala yang baik dan supaya anda pun dapat memberi tanggapan yang tepat atas panggilan Allah yang tertera dalam hati masing-masing.
Salam damai dan segala yang baik!