In Memoriam Bruder Aloysius Tubarman

Bruder Aloysius Tubarman MTB

Lahir di Kutoarjo: 07-10-1949
Profesi pertama: 08-12-1972
Kaul Kekal : 12-07-1981
Meninggal dunia: 04-07-2009
Dimakamkan di Pati: 06-07-2009

Bruder Aloysius dilahirkan di Kutoarjo pada akhir masa perjuangan kemerdekaan, dalam keluarga seorang wiraswasta. Ayahnya seorang tukang besi yang ahli pembuat roda pedati. Menjelang selesai pendidikan SMP pada tahun 1966, ia menerima sakramen baptis. Kemudian melanjutkan pendidikan ke SPG de Purworejo. Jarak itu dapat ditempuh dengan kereta api dan ia menyukai irama roda-roda pada sambungan rel yang khas kereta api sehingga tetap lebih senang bepergian dengan kereta api dari pada dengan bismalam. Waktu tamat SPG pada tahun 1969 ia ikut mengajar di kampung asal dan mulai berkontak surat dengan bruder Angelus di Alverna Kota Baru. Waktu pada tahun 1971 orangtuanya bermaksud menikahkannya dengan calon pilihan mereka, ia melarikan diri ke Novisiat MTB di Jogja. Namun hatinya tidak tenang dan magister Bruder Angelus menyarankannya untuk pulang dulu beberapa minggu dan mempertimbangkan kembali keputusannya. Sekali lagi ia memutuskan untuk menjadi bruder dan memulai masa novisiat di Singkawang pada tahun 1972 dan ikut membantu di SD Bruder dan di Asrama Santa Maria. Karya pertama yang dia tangani terletak di luar sekolah (pendidikan non formal) baik di Pati (1974-1976), maupun di Bina remaja Pontianak (1976-1978). Drumband Santo Paulus mendapat perhatiannya yang khusus pada masa itu. Kemudian ia mendapat tugas yang lebih berstruktur dan mengajar di SD Cahaya Singkawang dan SMP Tarcisius di tempat yang sama (1978-1980).
Walaupun umurnya sudah tiga puluhan ia siap menerima tugas studi Bahasa Indonesia di Sanata Dharma Jogjakarta dan sementara itu menanggung urusan rumah tangga Novisiat Alverna di jalan Ngadikan. Setelah menyelesaikan tugas ini ia mengajar beberapa tahun di SMP Bruder dan SMA Santo Paulus Pontianak (1985-1987). Namun pola berpikir yang assosiatif kurang mendukung tugasnya sebagai guru sehingga ia tidak lama langsung berhadapan dengan murid di kelas. Ia diminta menjadi sekretaris Yayasan PSB (1986-1993) dan anggota serta sekretaris Dewan Regio selama dua periode (1987-1999). Risalah-risalah rapat bulanan zaman itu memperlihatkan ketelitiannya. Dalam komunitas Pontianak ia pun aktif dan menjadi pemimpin komunitas selama satu periode (1991-1993). Kepeduliannya terhadap sesama bruder nyata juga dalam tugas sebagai Magister Novis di Jogjakarta (1993-1999). Sementara bertugas di Jogja ia merangkap sebagai wakil superior dan hampir setiap bulan datang ke Pontianak untuk mengikuti rapat dewan. Namun kombinasi ini dan jarak dengan anggota dewan lainnya tidak memuaskan rasa tanggungjawabnya.
Tahun 1999 ia kembali ke Pontianak dan beberapa tahun bertugas sebagai sekretaris Yayasan PSB. Waktu Bruder Leo J. pulang ke Negeri Belanda pimpinan Wisma Alverna diserahkan kepada Br. Aloysius. Walaupun tugas ini berat dan sewaktu-waktu membingungkan, ia terima dan melaksakannya sebaik mungkin selama beberapa tahun. Tahun 2006 ia kembali di Pontianak dan menerima tugas sebagai Ketua yayasan PSB sampai awal tahun 2009. Dengan senang hati ia menyerahkan tugas itu kepada penggantinya dan mulai menyiapkan diri mendalami bahasa Belanda dan pengarsipan di Negeri Belanda. Berkas permohonan visa sudah diserahkan dan prosesnya hampir selesai, waktu yang Mahapengasih mengeluarkan izin masuk dan membukakan pintu untuk saudara kita.
Kami mengenang almarhum sebagai saudara yang tulus, spontan dan sewaktu-waktu pun emosional. Namun rendah hati dan tidak segan-segan meminta maaf kalau ternyata ia keliru atau melihat bahwa perkataannya membawa dampak yang tidak dimaksudkan olehnya. Br. Aloysius bukan saja sungguh dalam karyanya namun juga dalam penghayatan panggilannya. Buku harian, yang dia isi selama bertahun-tahun, membuktikan pengaruh iman dan spiritualitasnya pada pengamatan dan pengolahan pengalamannya. Walaupun tugasnya berat dan kesulitan yang dihadapi, terutama sebagai ketua Yayasan, bukan sedikit, namun ia tetap mampu untuk bergembira dan tertawa terbahak-bahak. Kami bersyukur dan berterima kasih karena yang Mahapengasih telah memanggil dia masuk ke dalam persaudaraan kita. Semoga ketulusan, kedalaman iman dan kegembiraannya menjadi warisan berharga bagi kita.


 

« Kembali ke ikhtisar