.. hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni ..

Indonesia

Direct naar het goede artikel:

Top ↑Singkawang
Masa lampau provinsi Indonesia bermula di Singkawang (Kalimantan Barat). Tahun 1921 lima orang bruder dan Huijbergen datang ke Indonesia dan hidup di Singkawang. Tugas para bruder ialah memberi perhatian kepada anak-anak yang terlantar baik hidup maupun pendidikannya. Tahun 1923 para bruder mulai diberi tanggung jawab sepenuhnya untuk asrama dan sekolah. Tahun 1925 didirikan gedung asrama St. Maria dan HCS pada tahun 1928. Kegiatan lain di luar sekolah yaitu membuat "Persatuan Pemuda Tionghoa, dan Kelompok musik Harmoni St. Cecilia oleh Br. Longinus. Tuntutan untuk pendidikan bertambah sehingga tahun didirikan SMP Bruder oleh Br. Borromeus. Oleh guru-guru awam didirikan juga SMP St. Tarsisius menempati gedung SMP Bruder. Selain asrama dan sekolah, di Singkawang juga didirikan Novisiat Subasio untuk mendidik calon bruder tahun 1961; sampai dengan tahun 1978.

Singkawang 1921 Bruderan pertama

Singkawang 1921 Sekolah pertama dan asrama

Top ↑Pontianak
Pusat pemerintah dan vikariat ad di Pontianak, tahun 1 Juli1924 didirikan rumah di Pontianak. Bruder diserahi tugas mengurus HCS (Jl. Bali) dan asrama St. Mikael. Br. Kanisius mengembangkan Hoi Sen (sekolah Tionghoa) di Siantan. Br. Edmundus mendirikan sekolah dagang yang pada tahun 1956 berubah menjadi SMEP dan kemudian berubah menjadi SMP Bruder. Br. Valentinus membuka sekolah SD berbahasa Inggris yang kemudian diubah menjadi SD Melati. Br. Bernulfus dan beberapa orang awam mendirikan SMS St. Paulus. Seperti halnya di Singkawang bruder juga menyelengarakan asrama dan kegiatan di luar sekolah yaitu Persatuan pemuda Tionghoa Pramuka Pasukan Hijau St. Silvester (Br. Bertrandus) dan memanfaatkan gedung Bina Remaja yang dibangun 1972.

Pontianak 1924 Rumah bruder

Pontianak 1930 Pastoran dan gereja (Jl. Pattimura)

Top ↑Banjarmasin
Pada perayaan St. Fansiskus 4 Oktober 1935, lima orang bruder memulai hidup dan karya di Banjarmasin  (Kalimatan Selatan). Mereka bekerja sama dengan para Pastor MSF dan Suster SFD. Pada mulanya Br. Maternus mengembangkan HCS St. Yosef dan karya kepemudaan "SSS" (sport Spel Studi) dan kepanduan. Selama di Banjarmasin mereka sempat mengungsi ke Jawa selama perang dunia kedua. Sesudah perang mereka kembali lagi dan Br. Mauritius mengembangkan sekolah MULO (1948) yang dua tahun kemudian diubah menjadi kursus dagang. Tahun 1952 dibuka SMP oleh Br. Domitius. Br. Mauritius dan Yulianus membuka dan mengmebangkan SMA pada tahun 1959. Selain di sekolah dan kepanduan Br. Mauritius ikut mengajar di universitas UNLAN dan mengembangkan metode membaca -Tamsuri". Sedangkan Br. Koenrad menaruh perhatian pada katekese di sekolah. Musibah yang dialami berupa kebakaran di sekolah baru (1973) dan juga beberapa bruder yang jatuh sakit dan pulang ke Negeri Belanda atau meninggal dunia (antara lain Br. Anton Slamet) menjadi salah satu sebab komunitas bruder di Banjarmasin tidak diteruskan. Secara resmi tanggal 14 Juni 1980, gedung bruderan dan sekolah diserahkan kepada Keuskupan Banjarmasin.

Banjarmasin 1976 Rumah bruder

Top ↑Blitar
Ketika berkunjung ke Indonesia, Br. Silvester - Pemimpin umum - tertarik untuk mendirikan komunitas di Blitar (Jawa Timur). Dengan bantuan sejumlah guru awam tiga orang bruder memulai di Blitar tahun 8 Juli 1939. Mereka mendirikan HIS dan asrama. Mereka tidak dapat hidup dan berkarya lama di Blitar karena Jepang menyerbu. Para bruder dijadikan tahanan di Kediri dan Kamp Cimahi. Setelah perang selesai tahun 1945 mereka tidak kembali ke Blitar. Sayangnya Br. Claudius meninggal di Jakarta dan dimakamkan di Tanah Abang. Situasi tidak memungkinkan untuk meneruskan karya di Blitar.

Blitar 1939 Br. Claudius, Gaudentius dan Hilarion

Top ↑Kudus
Tahun 1940 ada kesepakatan antara bruder dengan pastor MSF yang berkarya di MULO. Pada bulan Juli Br. Gaudentius dari Blitar pindah ke Kudus (Jawa Tengah) untuk memulai hidup dan berkarya di MULO dan asrama. Karena situasi perang dunia II MULO ditutup pada tanggal 27 Februari 1943. Keadaan tidak menguntungkan lebih-lebih bruder juga ditangkap oleh Jepang dan ditahan di Bandung. Sesudah perang jumlah bruder berkurang sehingga tidak mungkin lagi meneruskan karya di Kudus.

Top ↑Nyarumkop
Sebagai upaya untuk mengembangkan pusat persekolahan bagi orang Daya di Nyarumkop, Mgr. Tarcisius van Valenberg membuka kembali "Cursus Volkschool Onderwijzers" (CVO). Pada 13 September 1948 secara resmi Bruder MTB mulai  bekerja sama dengan para pastor Kapusin dan Suster SFIC dari Veghel di Nyarumkop. Tugas pertama ialah mengembangkan CVO menjadi "Opleiding Voor Volks Onderwijzers"( OVVO). Setelah itu OVVO berkembang menjadi SGB (1950) dan kemudian SGA (1956) dan tahun 1965 menjadi SPG. Selain itu dikembangkan juga SMP (1951) dan SMA¬ Seminari (1957). Pada waktu itu rumah bruder belum ada sementara banyak tugas. Sebagian bruder menginap di Pastoran Nyarumkop dan sebagian pulang pergi dari Singkawang. Tahun-tahun berikutnya persekolahan Nyarumkop mulai berkembang sehingga memerlukan tenaga bruder dari Belanda. Para bruder selain bertugas di persekolahan dan asrama, mereka dipercayai juga untuk mendidik pemuda yang berminat menjadi bruder (1957). Setelah berjalan sekian tahun, karena berbagai alasan yang antara lain tenaga, tahun 1979 Nyarumkop ditinggalkan. 

Nyarumkop 1957 Magister Andreas dan postulan pertama

Nyarumkop 1969 Rumah bruder

Top ↑Pati
Setelah Blitar dan Kudus ditutup, Bruder MTB mulai lagi berkarya di pulau Jawa. Tahun 1950 bekerja sama dengan Suster SFD dan pastor MSF Bruder memulai karyanya di Pati (Jawa Tengah). Bruder Gaudentius memulai berkarya di SMP Keluarga, dibantu Br. Angelus dan diteruskan oleh Br. Bruno. Tahun-tahun berikutnya datang Br. Leo yang ikut mengembangkan karya rehabilitasi sosial penderita kusta di Sani; dan memulai kegiatan luar sekolah untuk muda-mudi yang dilaksanakan di Wisma Alverna. Untuk kepentingan pendidikan calon bruder, 1965 dibuka novisiat bagi calon yang berasal dari Jawa. Namun demikian pada tahun 1968, novisiat pindah ke Yogyakarta.

Pati 1976 Jalan ke Sani

Pati 1971 Br. Mauritius sedang mengajar

Top ↑Yogyakarta
Dengan pertimbangan pendidikan calon bruder dan pendidikan lanjut bagi bruder muda, tanggal 7 Maret 1968 dibuka Bruderan Alverna di Yogyakarta Jl. Ngadikan 1, menempati biara milik Kongregasi SCY. Br. Angelus dan Br. Andreas memulai tugas baru untuk rumah pendidikan bruder. Dan mulai ada calon yang datang dari sekitar Yogyakarta. Tahun 1973 pendidikan calon bruder seluruhnya dilaksanakan di Singkawang. Selanjutnya Bruderan Alverna untuk rumah pendidikan bagi bruder muda yang ditugasi belajar di perguruan tinggi. Penghuni tidak hanya bruder MTB tetapi juga Bruder FIC, FSC (dari Malaisia), Budi Mulia dan Frater Hamba-hamba Kristus (Makasar). Ini berlangsung sampai dengan tahun 1981

Yogyakarta Alverna 1968 Novisiat

Yogyakarta Alverna 1969 Magister Br. Angelus dan novis


Banjarmasin 1933 Sekolah HCS


Banjarmasin 1958 Br. Koenrad dan Guru-guru


Blitar 1939 Bruder dan anak asrama


Nyarumkop 1958 Magister Andreas dan novis pertama


Nyarumkop Kapusin dengan murid pertama


Pati 1967 Novisiat


Pati 1978 Komunitas


Pontianak 1913 Sekolah Sto. Mikael


Pontianak 1937 Pramuka bersama Br. Silvester dan Br. Edmundus


Pontianak 1960 Br. Canisius berpamitan dengan staf sekolah Hoi-Sen


Pontianak 1978 Rapat Umum Regio pertama (RUR)


Novisiat Albano Lawang 1980


Singkawang 1911 HCS St. Dionisius


Singkawang 1930 HCS Kelas 5-6


Singkawang 1954 Br. Robertus dan Rafael serta anak asrama


Singkawang 1961 Berardus Amideus Borromeus Herman Jibrael Koenrad dan dua novis


Singkawang 1967 Magister Ewald dan tiga novis


Singkawang 1970 Kapel dan rumah bruder


Singkawang 1975 Leo Rufinus mengucapkan kaulnya


Yogyakarta Alverna 1989 Magister Br Petrus dan novis


Yogyakarta Alverna 1976 Rumah studi beberapa kongregasi